08 Februari 2009

Sancta Maria Kodaira Chatolic Church




Kaget juga ngeliat Gereja di pagi itu bangkunya hanya 30% terisi. Yang datang 80% berusia kira2 di atas 45 tahun (Nihon jin), sisanya orang muda dari Korea, Cina, aku+loveku tentunya. Para misdinar yang membantu Pastor selama Misa juga tidak tampak.

Misa bahasa Jepang pertamaku, 21 Sep ‘08 jam 07:00 di Sta. Maria-Kodaira membuatku kurang bisa ngikutin karena (again..) masalah bahasa L Saat itu aku jadi lebih memahami perasaan loveku waktu dia ngikutin Misa berbahasa Indonesia, althougt Indonesia go-nya da faseh, tapi tata bahasa yang dipakai pada saat Misa tetep aja bikin dia ‘disconnect’. Kesamaan kita berdua dengan situasi di atas yaitu kita bisa nyanyi, karena ada buku nyanyian pastinya : )

Di sini buku nyanyian da tersedia di dalam Gereja, jadi tidak dibawa dari rumah seperti di Indonesia, bawa Puji Syukur/Madah Bakti masing2.

Di tengah-tengah Misa, gempa mengguncang, sampai2 jendela & pintu berderik-derik buatku panik. Pada saat aku da dalam posisi tegak di kursi, ngedekap tas tanganku & sepertinya da siap tuk lari, aku ngeliat kiri, kanan, loveku ko pada gak bergeming sedikitpun yaa?? Ya, hanya seorang ibu yang berjalan menutup pintu & jendela untuk mengurangi suara berisik yang tercipta. Pffhhh, malu BGT, alias malu banget, Nihon jin mang da familiar ma gempa kali ya, ato akunya yang kurang percaya padahal sedang ada di rumah Tuhan..

Selesai Misa kita sempatin pota-poto di sekitaran Gereja.

1 komentar:

mamanya Rui mengatakan...

Iya, kalo di jepang mayoritas pengunjung gereja Katolik orang tua tua. Tapi ada juga sih gereja Katolik yang banyak komunitas orang Filipina. Wuah, kalo banyak orang Filipina nya rame, mereka khan suka ngumpul dan nyanyi tuh, jadi lagu lagunya juga lebih meriah dan berirama. Apalagi kalau iringan lagunya pakai gitar, serasa bukan di gereja Katolik deh. Hehe.